Alam Semesta Teramati Lebih Kecil? Ini Cara Menghitung Luasnya!

Alam semesta teramati terdiri dari berbagai galaksi atau materi yang sudah berhasil terlihat dari Bumi berkat cahaya yang mereka pancarkan.

Kita tahu bahwa alam semesta luas dengan berbagai materi pembuatan di dalamnya. Karena itu, kita tidak dapat mengetahui semua bagian dari alam semesta.

Sejauh ini, sudah ada beberapa bagian alam semesta yang berhasil manusia amati dari Bumi. Materi alam semesta yang berhasil ilmuwan amati memiliki cahaya dan sinyal lain yang membantu.

Baca juga: Perbedaan Galaksi dan Tata Surya, Jangan Sampai Terkecoh Lagi!

Hal itu akhirnya membuat bagian alam semesta berhasil manusia mengetahui dengan bantuan alat canggih. Meski begitu, apakah Anda tahu berapa besar wilayah alam semesta yang sudah berhasil berhasil?

Benarkah Alam Semesta Teramati Kita Lebih Kecil?

Sekitar 13,8 miliar tahun lalu, Big Bang memulai kosmos. Alam semesta ini penuh dengan materi, antimateri, radiasi, keadaan ultra panas, dan padat lainnya.

Setelah itu, volume alam semesta kemudian akan meluas dan memperbaiki. Perlu Anda ketahui bahwa keadaan kosmis saat ini tidak hanya dingin dan mengelompok, tetapi juga mengandung gaya gravitasi serta meluas.

Selama mencari tahun penemuan, manusia di bumi mengetahui sebesar apa alam semesta kita ini. Sayangnya hingga hari ini belum ada gambaran seperti yang diharapkan.

Namun para ilmuwan sudah mengamati beberapa bagian alam semesta. Bagian-bagian tersebut tentu saja sesuai dengan kemampuan alat astronomi yang dimiliki manusia canggih.

Untuk pertama kalinya, para ilmuwan ukuran radius alam semesta mengamatii. Ternyata, hasilnya cukup mencengangkan karena tidak sebesar yang kita kira.

Di dalam pengukuran terbaru, diketahui bahwa bagian alam semesta secara teknis dapat dari Bumi kini menyusut sekitar 320 juta tahun cahaya dari segala arah.

Fisikawan dari University of Sciences di Philadelphia AS, Paul Halpern dan Nick Tomasello menggunakan data memperluas alam semesta terbaru. Data tersebut terkumpul dari wahana antariksa Planck milik Agensi Antariksa Eropa (ESA).

Baca juga: Bintang Paling Redup yang Pernah Teridentifikasi, Ini 5 Daftarnya!

Mereka menemukan bahwa tepi alam semesta yang sebenarnya tidak murni 0,7% lebih kecil dari perkiraan sebelumnya. Dengan pengukuran yang lebih akurat, mereka berhasil mendapatkan radius alam semesta.

Adapun radius alam semesta kita menjadi hanya 45.340.000 tahun cahaya dari yang awalnya 45.660.000 cahaya. Sebagai informasi tambahan, 1 tahun cahaya sama dengan 9,5 triliun km.

“Perbedaan 320 juta tahun cahaya mungkin tidak begitu berarti dalam skala kosmik, namun tetap saja ini membuat alam teramati kita ternyata jauh lebih kecil” ujar Tomasello.

Bagaimana Cara Menghitung Luas Alam Semesta?

Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana cara para ilmuwan menentukan luas alam semesta ini? Pada tahap penghitungan yang konkrit, para ilmuwan memiliki pemahaman tiga hal sekaligus.

Berikut ini cara mendapatkan perhitungan ukuran alam semesta melalui tiga pemahaman sekaligus:

  • Bisa cepat ekspansi kosmos yang terjadi saat ini. Ilmuwan dapat mengukur kecepatannya dengan sejumlah metode tertentu.
  • Ukuran panas dari alam semesta saat ini. Untuk pengamatannya, ilmuwan dapat menggunakan termal latar belakang gelombang mikro kosmik.
  • Bahan yang menyusun alam semesta. Hal itu termasuk materi, radiasi, neutrino, materi gelap, energi gelap, antimateri, dan lain sebagainya.

Melalui ketiga hal tersebut, maka ilmuwan nantinya dapat mengekstrapolasikan kembali ke tahap awal kosmom paling awal, yaitu saat terjadinya Big Bang yang akan menentukan AS dan ukuran alam semesta secara bersamaan.

Sejauh ini terdapat asumsi bahwa alam semesta berbentuk isotropik yang perkiraan dari jarak ke ujung alam semesta teramati sama ke segala arah. Kata yang teramati di sini adalah sejauh mana jarak manusia melihat cahaya.

Baca juga: Perbedaan Nebula dan Galaksi, Si Objek Indah Alam Semesta, Apa Saja?

Dalam jarak berapakah cahaya yang akan terlihat ketika foton terbelah pada masa rekombinasi. Gelombang gravitasinya yang mendeteksi menandakan bahwa kini terdapat kemungkinan untuk mendeteksi sinyal non-cahaya sebelum masa rekombinasi.

Estimasi terbaik usia semesta pada tahun 2015 lalu adalah 13.799.021 miliar tahun. Karena terjadi ekspansi alam semesta, sehingga manusia amati objek yang pada mulanya sangat dekat, namun menjadi jauh dari jarak tetap 13,8 miliar tahun cahaya.

Lebih lanjut, ilmuwan memperkirakan diameter alam semesta yang diamati sekitar 28,5 gigaparseks atau 93 miliar tahun cahaya dengan ujung alam semestanya 45,34 miliar tahun cahaya pada perhitungan terbarunya. (R10/HR-Online)

Leave a Comment